My cellular phone ku berdering terus sedari sore namun rasa lelah mengalahkan segalanya yang pada akhirnya kubiarkan deringnya sebagai music rest dan tak kuindahkan, waktu terus berjalan dan terhenyaklah diriku dari lelap tidur masih dikarenakan dering phone cell dan kua terima maka terdengarlah suara kawan nun jauh disana, kawan lama dan lama tak bersua akhirnya suaranya pun tak dapat di stop apakah dr dan Psikolog doyan dongeng ya ? dan akhirnya sampai dini hari inilah endingnya.
Luluncurkan Lepi butut harta karuhun ini ke dunia maya dan ketemulah dengan :
MEGALOMANIA
ini kupasannya hasil senggol sana-sini dan panas telinga dari sang Psikolog !!!!
Pemimpin adalah seseorang yang dijadikan panutan oleh orang-orang yang dipimpin, sebagai penentu nasib kelompok yang dipimpin dan mengarahkan pada cita-cita bersama yang telah diharapkan. Kekuasaan adalah amanah yang diemban oleh seorang pemimpin untuk mewujudkan secara bersama-sama atas kesejahteraan dan kebaikan yang telah dijadikan tujuan.
Jika kepemimpinan tidak diisi oleh seseorang yang sehat secara psikologis, maka yang terjadi adalah suatu bentuk pemerintahan yang dipimpin dengan “kegilaan” sebagai landasan pengambilan keputusan dan pemerintahan yang berlandasakan pada kegilaan hanya akan menuju pada petaka bagi yang diperintah, karena keputusan yang diambil untuk bertindak dan menjalankan roda pemerintahan tidak akan tepat guna dengan kenyataan dan keadaan.
Banyak yang mengatakan megalomania merupakan ciri yang terkadang tampak pada seorang pemimpin, penyebabnya mungkin dikarenakan para pemimpin yang dekat dengan kekuasaan, kemuliaan dan kekayaan. Disertai kecenderungan manusia yang memiliki kebutuhan untuk berprestasi disamping kebutuhannya yang lain, mendorong untuk meraih segala macam “kebaikan” sebanyak mungkin, setelah disuburkan dengan perasaan tidak pernah puas yang tidak mampu untuk dikendalikan, maka akan membawa kepada arah patologis jika dituruti tanpa pertimbangan dan kemampuan mengendalikan diri yang baik. Dibantu dengan kesempatan yang menggoda, serta ditopang oleh posisi sebagai pemimpin yang mana pada posisi tersebut seseorang pastilah memiliki pengaruh secara sosial-politik terhadap orang-orang yang dipimpinnya.
Maka seluruh hal tersebut akan sangat membantu merubah suatu pribadi untuk menjadi seseorang yang memiliki ambisi besar yang bersifat berlebihan, yang kemudian jika dibiarkan maka secara perlahan akan mengarah pada irasionalitas sebagai perwujudan dari obsesi akan keberhasilan diri yang belum tercapai dan didorong dengan harapan dan kepercayaan diri yang terlalu tinggi untuk mencapainya, maka keadaan ini biasa disebut dengan megalomania atau waham kebesaran.
Secara harfiah megalomania sendiri berasal dari bahasa yunani yang terdiri dari dua suku kata yaitu Megalo yang berarti sangat besar, termasyur, atau berlebih-lebihan, dan Mania yang berarti bentuk obsesi yang berlebihan terhadap sesuatu, dimana ketika digabungkan maka akan diartikan sebagai bentuk obsesi berlebihan yang mendorong seseorang pada kebutuhan akan keasyikan tertentu terhadap sesuatu yang bersifat irasional, bentuk irasional tersebut terkadang adalah perasaan kemuliaan dan kebesaran yang berlebih-lebihan atas diri sendiri.
Megalomania merupakan bentuk manifestasi keadaan patologis dimana seseorang memiliki suatu bentuk fantasi terhadap kekuatan, kekayaan dan “kemaha-besaran” didalam dirinya, hal ini terkadang disebabkan oleh obsesi mereka akan kebesaran dan kemuliaan, baik itu secara pemikiran atau perbuatan, yang tidak tercapai.
Para penderita paham kebesaran akan tetap mempertahankan keyakinan tersebut walau telah terbukti bertolak belakang dengan kenyataan sekalipun, dengan tujuan memenuhi hasrat obsesi mereka dalam bentuk fantasi, namun sangat berlebihan. Pada taraf kritis megalomania dapat membahayakan penderitanya dikarenakan keyakinan dirinya untuk mampu melakukan sesuatu yang tidak dapat dilakukan oleh manusia normal, seperti mampu terbang dari gedung bertingkat atau bahkan dapat menghentikan kereta api yang sedang melaju kencang hanya dengan menggunakan satu tangan saja.
Jenis perilaku tersebut, menurut Sigmund Freud, adalah hasil dari sebuah narsisisme kedua yang muncul pada seseorang yang mengidap penyakit mental, yang dibedakan olehnya dari narsisisme utama yang biasa muncul pada bentuk narsistis kebanyakan, narsistis ini bersifat patologis karena mengarahkan pada skizofrenia, dengan jalan mendorong harapan dan impian dari belakang libido sehingga terpisah dari obyeknya didunia nyata dan pada akhirnya menghasilkan megalomania. Narsisisme kedua yang ada pada bentuk penyakit mental menurut Freud berbentuk membesar-besarkan diri sendiri yang merupakan hasil dari manifestasi ekstrem dari narsisisme utama yang biasa terdapat dalam diri setiap individu.
Dari teori Freud yang tertulis diatas maka dapat diketahui bahwa akar dari megalomania adalah narsistik yang sakit, dimana penderitanya emmeiliki keyakinan diri yang dibesar-besarkan, berbentuk waham dan diyakini secara absolut. Sikap tidak mau menerima kritik walau salah sekalipun, dan tetap percaya terhadap apa yang sebenarnya telah terbukti salah merupakan sifat dari kepribadian megalomania. Hal ini terjadi karena keyakinan yang menganggap diri maha sempurna dan tidak mungkin melakukan kesalahan. Walau kecenderungan irasionalitas merupakan kenyataan, namun jika keadaan ini dimiliki oleh seseorang yang memiliki pengaruh dalam sosial-politik maka akan menimbulkan masalah yang besar.
Irasionalitas jika digunakan sebagai landasan untuk bertindak maka tidak akan mewujudkan cita-cita yang telah ditetapkan dan diharapkan. Keputusan yang baik didapat dari suatu proses berpikir yang baik pula, dilandasi oleh akal sehat dan memiliki tujuan yang jelas serta terarah dengan kebaikan dan kesejahteraan untuk setiap anggota yang berada dibawah kepemimpinan yang selalu menjadi prioritas utama. Lain halnya dengan bentuk pemerintahan yang dilandasi oleh keputusan megalomania yang ditetapkan oleh pemimpin yang sakit, hal tersebut akan mengarahkan roda pemerintahan pada arah kehancuran, karena landasan yang digunakan adalah murni berupa irasionalitas, bertujuan hanya untuk memenuhi hasrat kebesaran yang dimiliki oleh sang pemimpin megalomania, tidak berpihak kepada yang diperintah, atau bahkan tidak berdasar pada kenyataan sama sekali.
Walau megalomania tidak menutup kemungkinan untuk diderita oleh orang-orang yang jauh dari kekuasaan, namun sosok seorang pemimpin merujuk kepada kecenderungan-kecenderungan mulai dari ketidak-relaan sesiapapun untuk kehilangan jabatan tertinggi dalam suatu kelompok (negara atau perusahaan) hingga cara mempertahankan posisi tersebut yang dijadikan prioritas utama. Perilaku hanya mementingkan diri tersebut berarti sudah menyimpang jauh dari cita-cita awal yang telah ditetapkan, sehingga tujuan tidak tercapai dan terbengkalai ditengah jalan. Kecelakaan ini disebabkan karena kepemimpinan dipegang oleh seseorang yang salah, seseorang yang lebih mementingkan kemuliaan, kebesaran dan kekayaan diri pribadi dibandingkan dengan tujuan bersama yang telah diamanahkan.
Sigmund Freud, bapak psikologi, berpendapat bahwa akar dari megalomania adalah narsisme atau perasaaan mencintai diri sendiri secara berlebihan dalam diri manusia. Penderitanya memiliki suatu kecenderungan untuk menilai dirinya secara berlebihan atau menghargai diri melampaui batas. Ciri-ciri dari megalomania itu sendiri adalah:
- Tidak mau menerima kritik. Apapun pendapatnya, penderita megalomania selalu ingin didengar dan jika ada yang tidak setuju dengan pendapatnya, dia tidak akan mau mendengar karena berpendapat bahwa dirinyalah yang paling benar.
- Selalu ingin dihargai. Penderita megalomania akan selalu ingin dihargai karena merasa pendapatnya itu yang paling benar. Meskipun apa yang dilakukannya bisa merugikan orang banyak.
- Selalu ingin jadi ketua. Karena ingin dihargai dan merasa diri paling benar, maka penderita megalomania akan berpendapat posisi yang paling pantas untuknya adalah posisi teratas atau sebagai ketua. Dalam pikirannya, dia sudah merasa yang paling sempurna dan paling benar.
- Senang mencari pendukung. Penderita megalomania memang memiliki kemampuan sebagai pemimpin, maka itulah dia akan sangat puas jika memiliki pengikut. Dan salah satu kelebihan lain dari penderita megalomania adalah dia mudah untuk mempengaruhi orang lain untuk menyetujui perkataannya.
- Merasa orang lain tidak punya kemampuan. Karena percaya dirinya sendiri yang mampu mengerjakan sebuah pekerjaan, maka penderita megalomania menganggap orang lain tidak mampu. Akibatnya, dia selalu ingin mengambil alih pekerjaan orang lain. Sebisa mungkin semua pujian harus ditujukan kepadanya.
Nah siapa sih kiranya Tokoh yang seperti ini :
Adolf Hitler. Pemimpin NAZI dari Jerman ini dicurigai menderita megalomania oleh banyak ahli karena Adolf Hitler tidak pernah puas dengan apa yang dicapainya. Hitler pernah mengagungkan bangsa Jerman sebagai ras yang paling baik di dunia. Ambisi Hitler adalah untuk mengambil alih dunia dan menjadikan Jerman sebagai Lord of the Earth. Hitler membunuh lebih dari 20 juta orang, utamanya bangsa Yahudi, yang dianggap menghalangi jalannya untuk menguasai dunia dan menghabisi ras-ras yang dianggapnya jelek.
Hugo Chavez. Presiden Venezuela ini juga dicurigai menderita megalomania. Beliau diberitakan sangat gila kekuasaan. Cita-citanya untuk menjadi presiden seumur hidup digagalkan oleh peraturan di Venezuela bahwa seorang presiden tidak boleh menjabat lebih dari dua kali. Cita-cita lain Hugo Chavez yang mencirikan dia adalah megalomania yaitu keinginannya untuk mengontrol bank sentral, menguasai pers, dan menguasai rakyat yang menolaknya mentah-mentah.
Masih adakah tokoh lain …? silahkan cari sendiri yah !!!!!!!!
dan apakah kita termasuk seperti mereka ini atau ???? hanya diri kita sendiri yang tau, terima kasih atas waktu anda membaca sekelumit ini


حديث عبد الله بن عمر رضي الله عنهما. ان رسول الله صلى الله عليه وسلم قال: كللكم راع فمسؤل عن رعيته فالامير الذي على الناس راع وهو مسؤل عنهم. والرجل راع على اهل بيته وهو مسؤل عنهم. والمرأة راعية على بيت بعلها وولده وهي مسؤلة عنهم. والعبد راع على مال سيده وهو مسؤل عنه، الا فكلكم راع و كللكم مسؤل عن رعيته
- اخرجه البخارى فى 490 كتاب العتق: 17- باب كرهية التطاول على الرقيق
Hadits Abdullah bin Umar ra. Bahwasanya Rasulullah saw bersabda: “setiap kamu adalah pemimpin yang akan dimintai pertanggungjawaban atas kepemimpinannya. Seorang amir yang mengurus keadaan rakyat adalah pemimpin. Ia akan dimintai pertanggungjawaban tentang rakyatnya. Seorang laki-laki adalah pemimpin terhadap keluarganya di rumahnya. Seorang wanita adalah pemimpin atas rumah suaminya. Ia akan diminta pertanggungjawaban tentang hal mereka itu. Seorang hamba adalah pemimpin terhadap harta benda tuannya, ia kan diminta pertanggungjawaban tentang harta tuannya. Ketahuilah, kamu semua adalah pemimpin dan semua akan diminta pertanggung jawaban tentang kepemimpinannya
Dalam syarah riyadhus shalihin yang dijelaskan oleh syekh Muhammad bin Shalih al-Utsaimin, wajib bagi seorang yang memegang tonggak kepemimpinan untuk bersikap lemah lembut kepada rakyatnya, berbuat baik an selalu memperhatikan kemaslahatan mereka dengan mempekerjakan orang-orang yang ahli dalam bidangnya. Menolak bahaya yang menimpa mereka. Karena seorang pemimpin akan mempertanggungjawabkan kepemimpinannya dihadapan Allah ta’ala.